Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Agustus 2016

Entah Ku Tak Tahu

Entah ku tak tahu
Ku tak tahu siapa yang menanam benih
Yang sedang tumbuh subur dipekarangan rumah perjuangan anak kecil itu.

Jumat, 05 Februari 2016

Kini Sastra Rapuh Lumpuh


            Indonesia telah merdeka, telah hilang tabir penghalang, pengekang jiwa dan cita-cita bangsa Indonesia. Tidak cukup dengan  menciptakan kemerdekaan bangsa, dan tanah air, tetapi menelurkan pula jiwa yang bebas dinamis, realistis, dan revolusioner. serta memancarkan seni – sastra yang bernafaskan keindahan, melalui pengalaman jiwa,  mengalir didalamnya kebaikan, kesopanan, kearifan dan memegang teguh  masalah suluki, tarbawy, dan akhlaky.  sehingga mencapai nilai estetika yang tinggi.

YA AHLU !

Sekedar sapa
Pada tikar kehidupan
Saksi diam sisa-sisa kematian
Pengurai dosa dan pahala

Sekedar sapa
Pada sang khalifah
Diturunkan sebagai hamba
Pemimpin dan pengikut
Hanya itu pilihannya

Sekedar sapa
Pada mesin robbani
Pengolah hitam dan putih
Indikator benar dan salah

Sekedar sapa
Pada segumpal darah
Atau apalah bentuknya
Konektor cinta alami surgawi

Sekedar sapa
Pada kumpulan galaksi
Dalam genggam tangan Ilahi
Apa manusia dengarkan
Seisi langit mencela memaki
Menistakan keagungan duniawi








Kamis, 04 Februari 2016

Aku ber-Sastra, Aku Bodoh

                   

            Buat apa belajar, buat apa berimajinasi, buat apa berkreasi, buat apa merevolusi, buat apa membangun, buat apa berkembang, buat apa sastra, jika Indonesia sudah maju!, sebab sastra tidaklah lebih dari sebuah mainan kata yang diselipkan dalam pelajaran bahasa Indonesia sewaktu SMP maupun SMA dan tidak berarti apa-apa bagi mereka. Ingat! Indonesia bisa merdeka bukan karena sastra, Indonesia bisa maju seperti ini…bukan karena sastra, Indonesia bisa sehebat saat ini….bukan karena sastra. Sastra hanyalah orang dibalik layar bioskop yang tak terlihat sedikitpun oleh para penonton. Sastra hanyalah ‘penceklik’ nilai-nilai pancasila, sastra hanyalah teks berdebu dan karena sastra memang diumpat-umpatkan oleh Indonesia. Sastra sedang disimpan pada hijaunya hutan Indonesia dan tertimbun didalam gunung-gunung di Indonesia.

            Mereka manusia-manusia Indonesia telah berhasil membawa Indonesia menuju gerbang kemeredekaan bahkan gerbang modernitas, namun mengapa Indonesia ‘masih’ sehabat begini? Mengapa Indonesia ‘bisa’ seperti saat ini? Mereka itu pandai secara lahir, tapi tidak secara batin.

            Percaya! Sastra tidak lebih seperti obat yang pahit bagi manusia Indonesia. Ia beraroma busuk bagi para pelacur, dia beraroma bangsat bagi para koruptor, dan dia beraroma racun bagi para penista hukum. Tidak akan ada yang menudukung sastra berkembang di Indonesia, percayalah!. Sastra sejatinya akan tetap dipenjara dikedalaman hutan Papua, tetap dipenjara didalamnya kedalaman laut Banda,  akan terasingkan sebagaimana dipedalaman suku Badui, dan selalu dimusnahkan diseluruh nusantara. Ironis memang, tapi begitulah manusia Indonesia begitu ‘pintarnya’.

            Sastra tidak akan mempunyai ruang untuk membangun masyarakat Indonesia, sebab manusia Indonesia telah puas dengan pembangunan lahiriah. Saya tidak menyebut anda sebagaimana ‘diatas’, sebab anda memiliki pembangunan lahiriah dan batiniah bagi para masisir. Percayalah!  Pembangunan lahiriah tidak bisa menjawab semua persoalan manusia. Tapi pembangunan yang anda alami adalah pembangunan yang akan menjawab permasalahan batiniah sentimen, korupsi, loyalitas, nepotisme, radikalisme dan segalanya yang tidak bisa dijawab dengan angka-angka, rumus, atau kejelimetan sejumlah birokrasi di Indonesia. Persoaalan tersebut menyangkut jiwa-jiwa manusia, jangan andalakan jiwa manusia di Indonesia, pikirkanlah jiwa manusia anda sendiri, karena pembangunan batiniah anda disana, bisa menjadi jawaban sastra bagi manusia disini.

            Akan semakin bodoh manusia Indonesia jika seluruh mata pelajaran sastra dipaksakan masuk kedalam kurikulum pendidikan nasional. Sungguh tidak bisa dibayangkan bagaimana ‘bom atom’ akan merusak-barukan Indonesia, sebagaimana Jepang dahulu dan sekarang. Maka sungguh benar ‘tidak bisa dibayangkan bagaimana ‘bom atom’ akan merusak-barukan Indonesia, sebagaimana Jepang dahulu dan sekarang’. Dan memang sungguh benar ‘tidak bisa dibayangkan bagaimana ‘bom atom’ akan merusak-barukan Indonesia sebagaimana Jepang dahulu dan sekarang’.

            Cukup dengan masisir membangun jawaban atas keraguan pembangunan lahiriah Indonesia, persoalan-persoalan bisa dijawab dengan memasuki sastra (batiniah). Semakin banyak anda menumpuk sastra dijiwa anda maka semakin membesar empati anda terhadap negara ini. Cukup dengan empati-empati yang berlapiskan nilai dapat memanusiakan manusia dan membangsakan bangsa ini. Dan jika sudah seperti itu saya yakin, bahwa manusia Indonesia tidak akan sanggup lagi untuk korupsi, menghina etnis/komunitas/agama, bersikap materialistis bahkan perbuatan hina-dina lainnya.